Pagi yang cerah dengan udara yang sejuk, kini aku dan kakakku berjalan seperti biasa, aku pergi kesekolah dan kakak kuliah. Udara pagi ini terasa segar sekali, udara yang nyaman dihirup, pohon-pohon yang makin menyejukkan suasana. Hidupku saat ini bahagia sekali, ditambah lagi dengan adanya kakakku Yuanita yang benar-benar menyayangiku. Sejak ayah dan ibuku meninggal, aku hanya tinggal berdua dengan kakakku, meski kelihatannya sepi tapi aku benar-benar merasa nyaman berada didekatnya. Meskipun begitu, aku merasa kakak tidak pernah bercerita apa-apa padaku tentang masalahnya, seakan dia selalu menyembunyikan semuanya dariku. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya, asalkan selalu ada kak nita disampingku aku tidak perlu khawatir pada semua masalahku, karena ada kak nita yang selalu memberikan semua solusi atas semua masalahku.
Ketika aku dan kak nita sedang bercakap-cakap, tiba-tiba kak nita mengeluh sakit dibagian kepalanya dan tiba-tiba dia jatuh pingsan menimpaku, aku yang panik pun langsung meminta tolong pada orang sekitar untuk membawa kak nita kerumah sakit terdekat. Aku tak tahu dan bingung apa yang harus kulakukan setelah ini, aku sangat terkejut dengan semua ini. Ada apa dengan kak nita? tanya itu terbesit jelas dalam benakku. Sesampainya dirumah sakit aku menjaga kakakku hingga siuman, dan menitipikan surat izin pada temanku. Ketika kakak terbaring dipangkuanku saat pingsan, dia seperti menggigau memanggil nama ayah dan ibu, dan juga memanggil namaku. Aku semakin bingung apa yang terjadi dengan kak nita. Saat aku berpikir dengan semua ini, aku dikagetkan dengan kak nita yang tersadar, sejenak kebingunganku menghilang. Ketika keadaannya mulai membaik, aku pulang kerumah untuk mengambil bajuku dan baju kakakku, dan aku memutuskan untuk menginap dirumah sakit menemani kak nita. Suasananya tak seperti biasanya, aku bersama kakakku bercerita banyak dan banyak bercanda, dan sekarang dia tertidur diam dan menahan sakit ditempat tidur ini. Aku tak tahu sakit apa yang diderita kakak sampai bisa pingsan seperti ini, setahuku kakak sehat-sehat saja dan tak ada penyakit apa-apa. Lalu akupun telelap bersama tanya ini.
Ketika aku sudah terbangun, ternyata kak yuanita sudah terbangun lebih dahulu, sambil tersenyum dia menyapaku, tapi tersirat diwajahnya seperti menyimpan sesuatu yang benar-benar membebaninya, tapi itu tak terlalu terpikirkan olehku, yang terpikir saat ini bagaimana jika kakak harus selalu terbaring disini. Tapi aku tak mau berpikir seperti itu terlalu lama, rasanya sakit sekali bila itu terjadi. Lalu aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk bersekolah, meski harus meniggalkan kakak, tapi ini telah menjadi kewajibanku untuk membanggakan kakak. Setelah berangkat menggunakan bus, karena rumah sakit jauh dari sekolahku, aku bertemu seseorang yang sepertinya terus memperhatikanku, tapi aku biasa saja karena bukan masalah yang serius bagiku. Sesampainya disekolah, aku menjalani hariku seperti biasa, tapi ada yang agak menyakitkan hati siang ini, ternyata ada kakak temanku yang meninggal, aku terus berpikir yang tidak-tidak sampai aku jadi ingin menangis, tak tahu apa yang kubayangkan ini, sepertinya benar-benar menyakitkan. Lalu aku pulang kerumah sakit, dan melihat kakakku tertidur. Aku takut membangunkannya jadi aku agak diam, karena aku biasanya berisik sekali jika bertemu kakak, sambil tertawa aku membayangkan masa-masa dulu itu. Tanya yang kemarin pun tak terlalu menyelimuti perasaanku, lalu aku tertidur lelap bersama indahnya bulan malam ini.
Hari ini aku terbangun pagi sekali tapi ketika aku terbangun terdengar suara kakak yang mengingau aneh, menyebutkan nama syakila dan yang kutahu syakila itu sahabat kakak. Aku merasa kakak membutuhkan kak syakila, lalu aku pergi kerumah kak syakila. Ketika sampai disana sepertinya rumahnya sepi sekali, biasanya rumah ini ramai sekali dan banyak anak kecil, sepertinya manyenangkan bagiku yang hanya hidup berdua dengan kakak. Waktu mengetok pintu rumahnya terlihat kak syakila yang membuka pintu sambil mengusap kedua matanya seperti baru bangun tidur, seketika aku tertawa kecil melihat kak syakila dalam keadaan berantakan seperti itu, kak syakila terlihat malu-malu dan kelihatan masih mengantuk. Lalu mempersilahkan masuk dan menanyakan apa urusanku datang kerumahnya, kami berbicara banyak dan tersirat diwajahnya kesedihan yang terasa aneh. Setelah aku bercerita tentang kakak, kak syakila langsung bersiap-siap kerumah sakit untuk menjenguk kakak, dia sepertinya terburu-buru. Aku tak tahu apa yang ada yang dibenak kak syakila, aku tak pernah melihat kak syakila sepanik ini, aku ingin menanyakan kenapa alasannya tapi aku takut kak syakila marah, lalu aku dan kak syakila bergegas kerumah sakit.
Ketika sampai dirumah sakit aku tidak sengaja mendengar kakak berbicara dengan dokter, aku mendengar bahwa kakak sering konsultasi kerumah sakit ini dan sering melakukan terapi, tapi kakak sering memikirkan sekolahku dan karena itu kakak tidak mau lagi terapi untuk menyembuhkan penyakitnya, aku semakin penasaran penyakit apa yang kakak derita sampai kakak menyembunyikannya dariku. Ketika aku hampir mendengar mungkin rahasia terbesar dalam hidupnya itu, tiba-tiba saja kak syakila mengagetkanku dari belakang, untung saja tidak kedengaran kakak dan dokter. Lalu aku mendengarkan pembicaraan kakak dan dokter lagi sambil menyuruh kak syakila diam, lalu aku mendengar satu kata yang membuat aku dan kak syakila terdiam, dan aku terduduk menangis. Kenapa musti kakak yang mengalaminya, kenapa bukan aku, andai aku dapat menggantikan posisi kakak dan menerima semua penderitaannya, hal yang paling menyakitkan dalam hidupku selain ayah dan ibu meninggal. Aku bertanya-tanya dalam hatiku apakah semua orang yang kusayangi akan meninggalkan aku begitu cepat, tak ada siapa-siapa lagi yang menemaniku selain kakak. Ini tidak adil, kenapa selalu orang yang kusayangi, kenapa tidak aku saja.
Setelah mendengar tentang penyakit kakak, aku dan kak syakila hanya duduk didepan kamar. Aku tak mau mendengar apa-apa lagi, aku tidak tahu apa lagi yang harus aku perbuat. Lalu kak syakila bilang kalau penyakit kakak bisa disembuhkan denga operasi, tapi kakak tidak mau. Lalu aku langsung terkaget setengah senang, jadi penyakit kakak masih ada obatnya, aku berpikir jika dioperasi kakak akan sembuh kembali, hanya tinggal membujuknya saja. Tapi aku juga berpikir tentang biaya, aku sudah bertekad akan bekerja keras untuk kakak. Malam ini aku bertekad untuk menyuruh kakak operasi dan minta persetujuan dari dokter. Setelah berapa lama aku menunggu didepan ruang dokter, akhirnya dokter pun keluar. Aku membicarakan semua dangan dokter, dokter pun menyetujui dan tinggal kakak saja yang memutuskan, dan malam ini aku berharap bisa selalu bersama kakak lebih lama. Dua minggu lagi aku berulang tahun, aku berdoa semoga mendapat kado terindah dari tuhan.
Tak terasa hampir 1 bulan kakak dirawat disini, aku tak sabar menunggu kakak dioperasi. Hampir satu minggu ini aku bekerja paruh waktu dicafe, aku bersyukur pihak kantor kakak mau membantu pembiayaan kakak selama dirawat dan dioperasi nanti, tapi aku ingin membahagiakan kakak dengan sebagian uang hasil jerih payahku. Kata dokter 10 hari lagi kakak akan pulang, berarti kakak pulang saat hari ulang tahunku. Ini benar-benar kado terindah, aku benar-benar menunggu walaupun 10 hari lagi, aku menjemput kakak.
Setelah 10 hari
Hari ini hari yang kunantikan, hari ulang tahunku dan pulangnya kakak. Aku menaiki mobil yang kupinjam dari teman kerja paruhku dicafe, memang aku cukup merepotkan tapi ini semua demi kakak. Lalu ketika dijalan ternyata jalanan macet, aku terpaksa turun dari mobil dan berlari menuju rumah sakit. Ketika menyebarang jalan aku tidak melihat kanan kiri dan tiba-tiba ada truk yang menabrakku dan aku langsung tersungkur didepan kakakku diseberang jalan. Dan akhirnya dihari ke-40 dan ulang tahunku ini aku mendapat kado istimewa, yaitu menyusul ayah dan ibu kesurga.